5 Apr 2020 22:39 pm

BeJoBE | Better Journalism for Better Environment

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia

KAJIAN KONDISI  SUMBERDAYA  KELAUTAN DAN PERIKANAN DI PROVINSI NTT

 

Oleh

Fonny J.L Risamasu

(Kepala Pusat Penelitian Perikanan dan Kelautan Lembaga Penelitian Undana,dan Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana)

 

PENDAHULUAN

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi kepulauan yang terletak di sebelah selatan wilayah Indonesia memiliki luas wilayah laut 200.000 km2 (di luar ZEEI) di dalamnya memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan masyarakat. Dengan melihat pada kontribusi sumberdaya pesisir dan laut di NTT cukup besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, maka upaya untuk mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya tersebut perlu digali dan diupayakan sebesar-besarnya dengan tetap mempertahankan daya dukung lingkungan pesisir dan laut bagi kepentingan masyarakat serta menambah devisa bagi daerah NTT.

Potensi sumberdaya kelautan dan perikanan  yang dimiliki terdiri atas  3 (tiga) kelompok diantaranya sumberdaya dapat pulih (renewable resources); sumberdaya tidak dapat pulih (non-renewable resources dan Jasa-jasa lingkungan (jasling). Sumberdaya dapat pulih seperti mangrove, terumbu karang, padang lamun dan rumput laut (alga), dan sumberdaya perikanan (ikan dan non ikan). Selan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi seperti laut Sawu, namun termasuk  juga dalam kawasan segitiga coral dunia (coral triangle),  

Sumberdaya kelautan dan perikanan ini telah dimanfaatkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi di NTT  melalui kegiatan penangkapan ikan, dan budidaya perikanan,dan dilanjutkan dengan kegiatan pengolahan hasil perikanan dan pemasaran. Kegiatan-kegiatan ini sudah dilakukan sejak dulu dan sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir di NTT. Pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan terus berlangsung. Akibat dari pola pemanfaatan yang tidak memperhatikan unsur kelestarian  tentu akan membawa dampak terhadap kerusakan sumberdaya dan lingkungan perairan.

     Kebijakan pemerintah  dalam mengatasi dan meminimalisir dampak yang terjadi terhadap kerusakan sumberdaya kelautan dan perikanan terus dilakukan melalui program-program seperti sosialisasi dan kampanye kesadaran lingkungan, pelatihan-pelatihan, bantuan dana usaha serta melalui program konservasi. Salah satu contoh dengan menetapkan Laut Sawu sebagai Kawawasn Konservasi Perairan Nasional.           Bertolak dari uraian di atas, maka tulisan ini dibuat untuk mengungkapkan fakta kondisi sumberdaya kelautan dan perikanan di NTT, dimana data yang digunakan dalam tulisan ini  bersumber dari beberapa hasil penelitian dan referensi lain.

 

POTENSI SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN  NTT

Potensi Sumberdaya Ikan dan Non Ikan

            NTT memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat beragam jenisnya. Pemanfaatan sumberdaya ikan melalui kegiatan penangkapan ikan. Diketahui potensi lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY)  sebesar 388,7 ton/tahun (Widodo, dkk, 2001 dalam DKP, 2009) dengan Jumlah tangkapan Yang Diperbolehkan (JTB) sebesar 292.800 tontahun.  komoditas unggulan yang dimiliki terdiri atas ikan pelagis baik pelagis besar maupun pelagis kecil seperti tuna, cakalang, tenggiri, layang, selar, dan kembung, sedangkan ikan demersal seperti kerapu, ekor kuning, kakap, bambangan, dan lain-lain, serta (3)  komoditi  non ikan seperti lobster, cumi-cumi, kerang darah, dan lain-lain (Kupang (Antara News) 2012).

Hasil penelitian Risamasu, dkk (2011), telah mendata sumber pangan ikan yang dikonsumsi masyarakat NTT khusus di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang melalui wawancara dan pengamatan pada sejumlah pasar ikan di kota Kupang ditemukan beragam jenis ikan yang dikonsumsi masyarakat . Adapun Jenis ikan yang dikonsumsi masyarakat untuk ikan pelagis baik pelagis besar maupun kecil ada 42 spesies yang tergolong dalam 27 genus dan 12 famili, sedangkan ikan demersal terdata ada 62 spesies yang tergolong dalam 42 genus dan 25 famili. Selanjutnya untuk sumberdaya non ikan ditemukan pula berbagai jenis moluska, kepiting, udang, dan cumi-cumi.

Data BPS NTT (2011, 2012), mengungkapkan armada yang digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan masih didominasi oleh jukung dan perahu papan, sedangkan alat tangkap yang dominan digunakan nelayan untuk menangkap ikan yaitu jaring insang (gill net).

Selanjutnya perikanan budidaya laut memiliki luas lahan 51.879 ha, tersebar pada 16 Kabupaten/Kota. Luas lahan budidaya laut sebesar  5,870 ha diperuntukan untuk budidaya rumput laut, mutiara, dan kerapu, dengan potensi produksi dapat mencapai 51.500 ton/tahun.  Budidaya air payau seluas  35,455 ha, khusus budidaya udang dan bandeng dengan potensi produksi dapat mencapai 36.000 ton/tahun.  Budidaya air tawar seperti  budidaya kolam seluas 8,375 ha, dengan potensi produksi mencapai 1,297 ton/tahun dan mina  padi  seluas 85 ha,  dengan potensi produksi mencapai 85 ton/tahun (Kupang (Antara News), 2012)

Luas lahan potensial untuk budidaya rumput laut di provinsi NTT sebesar 51.870 Ha atau 5% dari  panjang garis pantai, dengan potensi produksi sebesar.250.000 ton kering/tahun. Walaupun potensi ini cukup besar namun lahan yang dimanfaatkan pada tahun 2010 baru  mencapai 5.205,70 Ha dengan produksi 1,7 juta ton rumput laut basah. Pengembangan usaha budidaya rumput laut berpotensi ada pada semua Kabupaten/ Kota di provinsi  NTT kecuali Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), karena kondisi perairannya tidak memenuhi syarat bagi pengembangan budidaya ini. Kabupaten di NTT yang mengembangkan usaha budidaya rumput lautnya antara lain: Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Sumba Timur dan Kabupaten Manggarai Barat. Jenis rumput laut yang dibudidayakan adalah Echeuma cotonii, Eucheuma sp, dan Alga Merah (red algae) (Kupang (Antara News), 2012).

Risamasu, dkk (2011), juga telah mendata beberapa jenis rumput laut yang sudah dibudidayakan oleh masyarakat  Kabupaten Kupang  seperti Eucheuma spinosum, E. cottonii, E. striatum (sakol) dan Codim sp. Perkembangan budidaya rumput laut cukup maju dan sudah dipasarkan keluar daerah NTT maupun sampai manca negara.

 

Terumbu Karang

Potret kondisi terumbu karang di NTT yang diambil dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang saat ini semakin menurun dan termasuk kategori rendah sampai sedang. Hasil penelitian Rusydi, dkk (2010)  yang melakukan penelitian untuk mengamati kondisi terumbu karang di perairan Kecamatan Kupang Barat pada 5 stasiun pengamatan ditemukan presentase penutupan karang berkisar antara 10,36 – 20,12% tergolong kategori sangat rendah – rendah, sedangkan di perairan Pulau Semau yang diteliti pada 5 stasiun ditemukan presentase penutupan karang keras antara 0,20 -35,22% tergolong kategori sangat rendah sampai sedang.

Menurut Ninef, dkk, (2010),  kondisi terumbu karang pada 11 lokasi di perairan Lembata termasuk kategori cukup baik / sedang dengan persentase penutupan karang keras rata-rata sebesar 41,86 %. Sine (2012), melalui penelitiannya ditemukan jenis karang yang berada di perairan Teluk Kupang pada 6 lokasi yang diamati sebanyak 28 genus dan 11 famili. Perkembangan presentase tutupan karang hidup di perairan Teluk Kupang  dari tahun 2002 – 2010 yang diambil dari beberapa hasil penelitian terdahulu pada 10 lokasi (desa) ternyata rata-rata presentase tutupan karang di bawah 50% tergolong kategori cukup/sedang.  Namun Sine (2012), juga  melakukan pengamatan kondisi terumbu karang di Teluk Kupang pada 6 lokasi (Pertamina Bolok, Pelabuhan Tenau, Batu Kepala, Oesapa, Pulau Kera bagian Timur dan bagian Selatan) ditemukan presentase penutupan karang keras antara 4,0 – 50 % dengan rata-rata 33,33 % tergolong  kategori sedang.

Hasil penelitian Undana (2009), mengungkapkan jenis karang yang ditemukan di perairam Alor berjumlah 75 spesies karang dan famili yang dominan adalah Acroporidae. Kondisi ekosistem terumbu karang pada beberapa lokasi penelitian seperti  Bana (Pantar),  Kokar, Pulau Ternate, dan Pulau Buaya  ternyata presentase penutupan karang keras rata-rata antara cukup sampai bagus dan dominan dibawah 50 %, hanya di Pulau Ternate 52,60 %. Selanjutnya hasil penelitian yang dilakukan WWF ((2011) mengungkapkan bahwa beberapa perairan khusus perairan Wolwal dan Pura  presentase penutupan karang keras  berada dalam kondisi sedang antara 25 – 49,9%. Sementara  hasil penelitian WWF (2013)  pada Kawasan Konservasi Perairan  Daerah (KKPD) Kabupaten di zona inti, zona perlindungan (buffer), zona pemanfaatan (zona parawisata dan zona perikanan berkelanjutan)  ternyata presentase tutupan karang keras hidup rata-rata di bawah 50% (kondisi sedang). Khusus zona inti rata-rata presentase penutupan karang dibawah 40 %, zona perlindungan di bawah 40 %, zona pemanfaatan (zona parawisata dan zona perikanan berkelanjutan) juga dibawah 40%. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi terumbu karang di perairan Alor sudah berada dalam kodisi rusak dan perlu mendapat perhatian yang serius dari pihak pemerintah Kabupaten Alor.

 

Mangrove

            Nienef, dkk (2010), telah melakukan pengamatan jenis mangrove pada 10 lokasi di 5 kecamatan Lembata, ditemukan jenis mangrove ada 14 spesies (jenis). Nilai  kerapatan jenis mangrove tertinggi di Waekerong adalah Rhizophora mucronata dan R. apiculata, di dermaga Ferry Lewoleba adalah Rhizophora apiculata, Sonneratia alba dan Lumnitzera racemosa, di Waejarang adalah Rhizophora mucronata dan R. apiculata, di Lewoleba (Bandara) adalah Pemphis acidula dan Rhizophora apiculata, di Jontana adalah R. mucronata, di Watodiri adalah R. apiculata dan Avicennia marina dan Tapobaran adalah Excoecaria agallocha dan Sonneratia caseolaris. Nilai Indeks Keragaman (H’) jenis mangrove pada semua lokasi umumnya rendah, artinya komunitas mangrove berada pada kondisi tertekan.

Nai Ulu (2010), mengemukakan jenis mangrove yang ditemukan di Kelapa Lima, Tanah Merah dan Oebelo, dimana di Kelapa Lima terdapat  2 jenis mangrove, di Tanah Merah  terdapat 12 jenis dan di Oebelo terdapat 4 jenis mangrove, dengan jenis mangrove terbanyak  terdapat di Tanah Merah. Kerapatan pohon tertinggi didominasi oleh jenis Avicennia marina (Aviceniaceae) pada ketiga lokasi. Nani (2011), mengemukakan jenis mangrove yang ditemukan di Pariti ada 5 jenis dan di Oeteta ada 6 jienis. Jenis mangrove pada kedua lokasi ini yang memiliki keraparan pohon  tertinggi adalah Avicennia alba (Avicenniaceae).  Selanjutnya  Bait (2011), mengemukakan jenis mangrove yang ditemukan di Bipolo ada 11 jenis dan jenis yang memiliki kerapatan pohon tertinggi adalah Lumnitzera racemosa (Combretaceae). Hasil analisis indeks keragaman (H’)  pada tingkat pohon  pada 6 stasiun pengamatan di desa Bipolo berada pada kisaran 0,79 – 3,52  tergolong kategori sangat buruk, sedang sampai baik.

            Rusydi, dkk (2011) mengemukakan jenis-jenis mangrove yang ditemukan pada lima lokasi penelitian meliputi Tesabela terdapat 5 jenis mangrove dan jenis yang memiliki kerapatan pohon  tertinggi adalah Aegialitis annulata (Pumbaginacae). Tablolong terdapat 6 jenis  mangrove dan jenis yang memiliki kerapatan pohon tertinggi adalah Rhizophora mucronata dan Bruquiera cylindrica (Rhizophoraceae), Pulau Kambing terdapat  3 jenis mangrove dan jenis yang memiliki kerapatan pohon tertinggi adalah Sonneratia alba (Sonneratiaceae). Sebelah Barat Kawasan Budidaya Mutiara di Semau terdapat 3 jenis mangrove dan jenis yang memiliki kerapatan pohon tertinggi adalah  Sonneratia alba (Sonneratiaceae), sedangkan di Hansisi terdapat 7 jenis mangrove dan jenis yang memiliki kerapatan pohon tertinggi adalah Rhizophora mucronata (Rhizophoraceae).

 

Padang Lamun

Hasil penelitian Pellu (2008), mengatakan bahwa jenis-jenis lamun yang ditemukan  di pesisir pantai desa Tablolong ada 6 jenis antara lain : Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Thalassiodendron ciliatum, Cymodocea rotundata, halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis dan H. spinosa. Ninef, dkk (2010), telah melakukan pengamatan terhadap ekosistem lamun yang berada pada 4 lokasi penelitian di pantai Lembata ditemukan  jenis mangrove sebanyak 8 spesies, dimana 4 spesies terdapat di Dermaga Ferry Lewoleba dan Waepukang, sedangkan 2 spesies terdapat di Lewoleba (Bandara) dan Jontana. Jenis lamun yang memiliki kerapatan tertinggi di Dermaga Ferry Lewoleba adalah Thalassia hemprichii dan Cymodocea serrulata, di Lewoleba (Bandara) adalah Thalassia hemprichii dan Cymodocea serrulata, di Waepukang adalah Thalassia hemprichii dan di Jontana adalah Halodule pinifolia. Indeks Keragaman (H’) tertinggi di Dermaga Ferry Lewoleba adalah Cymodocea serrulata dan Halodule pinifolia, di Lewoleba (Bandara) adalah Enhalus acoroides dan Halodule pinifolia, di Waepukang adalah Enhalus acoroides dan Halodule pinifolia, serta di Jontana  adalah Halodule pinifolia dan Halophyla ovalis. Nilai Indeks Keragaman (H’) pada semua lokasi rendah artinya lamun di lokasi penelitian berada pada kondisi tertekan.

Sementara Rusydi, dkk (2011), yang melakukan penelitian terhadap jenis-jenis lamun pada tiga lokasi yaitu Dermaga PT Tom Bolok, Tesabela/Batubao dan Tablolong  ditemukan pada Dermaga PT Tom Bolok terdapat 8 spesies  yang tergolong dalam 4 genus  dan 2 famili dimana dari famili  Potamogetonaceae ada Cymodocea  serrulata, C. rotundata, Halodule uninervis, dan H. pinifolia , sedangkan dari famili Hydrocharitaceae ada Halophila ovalis, H.decipiens, Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides. Kemudian Tablolong  terdapat 5 spesies yang tergolong dalam 4 genus dan 2 famili seperti famili Potamogetonaceae ada Halodule uninervis dan H. pinifolia, sedangkan dari famili Hydrocharitaceae ada Halophila ovalis, Enhalus acoroides, dan Thalassiodendron ciliatum.  Selanjutnya Tesabela/Batubao terdapat 4 spesies yang tergolong dalam 3 genus  dan 2 famili, dimana dari famili Potamogetonaceae ada Halodule uninervis, H. pinifolia, sedangkan dari famili Hydrocharitaceae ada Halophila ovalis dan Enhalus acoroides.

            Jumini (2011), mengemukakan bahwa  hasil analisis nilai  Indeks Keragaman (H’) dari 3 jenis lamun   (Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium) yang diteliti di Tablolong  nilai H’ berkisar antara 1,098 – 2,160. Begitu pula di Paradiso nilai H”’dari Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium berada pada kisaran 1,280 – 1,506. Artinya  keanekaragaman jenis lamun pada kedua lokasi berada pada kategori sedang, produktivitas cukup, kondisi ekosistem cukup seimbang, dan tekanan ekologis sedang.

Mas’ulah (2011), menemukan jenis lamun di desa Bolok  terdiri atas Halodule uninervis, H. pinifolia, Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium termasuk famili Potamogetonaceae, dan Enhalus acoroides dari famili (Hydrocharitaceae). Jenis lamun yang mempunyai kerapatan tertinggi adalah Halodule pinifolia dan Enhalus acoroides. Nilai rata-rata indeks keragaman (H’)  lamun sebesar 0,844. Nilai ini menunjukkan keanekaragaman jenis lamun rendah, miskin,dan produktivitas rendah yang mengindikasikan kondisi ekosistem lamun di desa Bolok berada dalam kondisi tertekan.

 

ANCAMAN TERHADAP SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN

Sumberdaya Ikan dan Non Ikan

Ancaman utama terhadap sumberdaya ikan dimana nelayan masih menangkap ikan menggunakan bom dan racun di terumbu karang  mengakibat sumberdaya perikanan karang menurun, praktek Illegal fishing masih terus berangsung, musim yang tidak menentu, konflik kepentingan dan orientasi wilayah penangkapan terpusat di perairan pantai karena armada penangkapan masih didominasi oleh perahu tanpa motor.  Untuk budidaya ikan dan rumput laut ancaman utamanya yaitu  kualitas dan sumber bibit, lokasi budidaya, musim, hama dan penyakit yang sering menyerang ikan dan rumput laut, serta harga jual produk rumput di pasaran yang selalu berfluktuatif.

 

Terumbu Karang

            Menurut YPPL (2011), beberapa ancaman yang dapat merusak terumbu karang akibat aktivitas manusia pada 11 kabupaten di NTT  (Kota Kupang,Kupang, Manggarai, Manggarai Barat, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur dan TTS)  yaitu penambangan karang, pembuangan limbah, pengeboman ikan, penangkapan ikan dengan racun, dan pembangunan infrastruktur (jeti, hotel, seawall, resort, dll). Menurut Sine (2012), ancaman yang dapat merusak terumbu karang di Teluk Kupang akibat aktivitas manusia yaitu pencemaran limbah domestik dan aktivitas makameting oleh masyarakat pesisir. Tim Peneliti Undana (2009), mengemukaan ancaman yang dapat merusak terumbu karang di perairan Alor yaitu penangkapan ikan menggunakan bom dan racun, kematian secara alami, dan predator. WWF (2013), mengemukan beberapa ancaman yang dapat merusak terumbu karang di Kabupaten Alor yaitu aktivitas penangkapan oleh nelayan lokal, jalur pelayaran, kematian alami, pembangunan di wilayah pesisir, pengambilan pasir laut, pelabuhan laut dan penebangan mangrove.

 

Manggrove

            Menurut Dishut, NTT(1997), ancaman akibat aktivitas manusia yang menyebabkan mangrove rusak pada lokasi penelitian di Flores dan Kepulauan Solor  yaitu pengambilan mangrove untuk kayu bakar, tiang konstruksi rumah, dan pembuatan tambak, sedangkan ancaman alami disebabkan oleh tsunami dan pengendapan lumpur. Menurut Ninef, dkk (2010), yang melakukan penelitian di Lembata ditemukan ancaman yang dapat merusak ekosistem mangrove yaitu aktivitas manusia berupa perluasan lahan pantai untuk Dermaga Ferry dan pelabuhan udara, masyarakat mengambil kayu mangrove untuk kayu bakar, tempat pendaratan perahu, tambak garam dan kematian secara alami.

Selanjutnya Nai Ulu (2010), mengemukakan  faktor-faktor penyebab rusaknya mangrove di Kelapa Lima, Tanah Merah dan Oebelo karena dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat rekreasi, mencari makanan ternak, mengambil kayu bakar, tambak garam dan ikan, tempat penangkapan kepiting dan hewan laut lainnya. Menurut Bait (2011), aktivitas manusia yang berdampak pada ekosistem mangrove di desa Bipolo yaitu masyarakat memanfaatkan kayu mangrove untuk kayu bakar dan bahan bangunan, sebagai tiap pancang sero sapu lidi, penyangga pancing kepiting dan penyangga tali pengusir burung, tempat penambatan perahu serta konversi lahan untuk tambak ikan.

Selanjutnya Nani (2011), mengemukakan aktivitas manusia di Pariti yang berdampak pada ekosistem mangrove yaitu penggunaan kayu mangrove sebagai kayu bakar, kayu pagar, penggantung alat tangkap trammel net, penyangga sero waring, konversi lahan mangrove untuk tambak  ikan bandeng dan garam, sedangkan di Oeteta disebabkan oleh penggunaan kayu mangrove sebagai kayu bakar, penyangga sero waring, dan konversi lahan mangrove untuk tambak  garam.  YPPL (2011), beberapa ancaman yang dapat merusak mangrove akibat aktivitas manusia pada 11 kabupaten di NTT  yaitu penebangan hutan bakau, penangkapan ikan dengan racun dan pembuangan limbah.

 

Padang Lamun (Seagrass)

            Hasil penelitian Ninef, dkk ( 2010) mengemukakan  aktivitas manusia yang dapat mengamcam padang lamun pada lokasi penelitian di Lembata yakni padang lamun digunakan sebagai tempat pendaratan perahu, tempat budidaya, makameting dan pengerukan untuk membuat pelabuhan. Hasil penelitian Jumini (2011), menemukan bahwa aktivitas manusia yang dapat menjadi ancaman bagi padang lamun (seagrass) diTabolong yaitu penambatan perahu nelayan, lalulintas petani pembudidaya rumput laut, parawisata dan limbah domestik. Selanjutnya untuk Paradiso yaitu kegiatan makameting (pengambilan biota saat air surut, penambatan perahu nelayan, doking perahu nelayan, parawisata, penambangan karang dan limbah domestik. Menurut Mas’ulah (2011), aktivitas manusia yang dapat menjadi ancaman bagi padang lamun (seagrass) di desa Bolok yaitu kegiatan budidaya rumput laut,  makameting dan tempat pendaratan perahu. Menurut YPPL (2011), beberapa ancaman yang dapat merusak padang lamun akibat aktivitas manusia pada 11 kabupaten di NTT  yaitu penambangan karang, penambangan pasir pantai dan pembuangan limbah.

 

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN PEMERINTAH

            Pemerintah telah melakukan berbagai upaya  dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan di NTT melalui berbagai program antara lain :

  1. Memberikan bantuan modal usaha kepada para nelayan dan pembudidaya,
  2. Memberikan bantuan alat tangkap dan armada penangkapan bagi para nelayan
  3. Memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para nelayan dan pembudidaya untuk meningkat pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang usahanya
  4. Membuat berbagai regulasi dalam hubungan dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan di NTT
  5. Melakukan sosialisai dan kampanye tentang kesadaran lingkungan mulai dari anak usia dini sampai orang dewasa
  6. Mencanangkan program Gemala
  7. Membentuk lembaga-lembaga pengelola sumberdaya kelautan dan perikanan di NTT
  8. Melaksanakan program rehabiliatsi terumbu karang
  9. Melaksanakan  program reboisasi hutan mangrove
  10. Telah menetapkan Laut Sawu sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional

Namun semua program yang telak dilaksanakan pemerintah belum sepenuhnya menjawab dan mengatasi permasalah kebutuhan masyarakat NTT. Oleh karena itu, kedepan pemerintah perlu membuat perencanaan program yang lebih terarah dengan memperhatikan kebutuhkan masyarakat  sehingga sasaran program jelas dan memberikan hasil yang optimal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT.

 

REKOMENDASI

            Rekomendasi yang diusulkan kepada pemerintah dalam upaya pemanfaatan dan pengelolaan  sumberdaya kelautan dan perikanan di NTT  kedepan sebagai berikut :

  1. Kegiatan Penangkapan Ikan
  1. Perlu penataan  zonasi daerah penangkapan yang dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)  provinsi/kota/kabupaten
  2. Perlu pengawasan dan penegakan aturan terhadap Illegal fishing
  3. Menambah sarana dan prasarana pengawasan di perairan laut
  4. Perlu meningkatkan pemahaman nelayan tentang teknologi penangkapan ramah lingkungan
  5. Perlu meningkatkan  kelembagaan usaha nelayan
  6. Perlu kerjasama dengan jasa perbankan agar nelayan dapat mengakses modal usaha dengan mudah
  7. Perlu meningkatkan sarana dan prasarana penangkapan terutama armada penangkapan yang masih didominasi perahu tanpa motor
  8. Perlu meningkatkan  pengetahuan dan ketrampilan nelayan dalam bidang penangkapan ikan
  9. Perlu pendampingan kepada para nelayan
  10. Memudahkan nelayan untuk mengakses sumber pasar  dalam pemasaran produk
  11. Melakukan standarisasi harga jual produk perikanan sehingga tidak ada permainan harga dipasaran

 

  1. Kegiatan Budidaya
  1. Perlu mendata dan memetakan potensi sumberdaya ikan dan non ikan yang dapat dibudidaya di NTT
  2. Pengadaan panti pembenihan (hatchery)  sehingga bibit ikan dan  rumput laut tidak didatangkan dari luar daerah
  3. Menerapkan teknologi yang dapat menanggulagi penyakit ikan dan rumput laut bagi pembudidaya
  4. Meningkatkan pemahaman pembudidaya untuk memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai sumber pakan
  5. Perlu  kajian tentang kelayakan lokasi budidaya
  6. Perlu membuat peta zonasi peruntukan lokasi budidaya
  7. Perlu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pembudidaya tentang teknologi budidaya
  8. Perlu kerjasama dengan jasa perbankan agar pembudidaya dapat mengakses modal usaha  dengan mudah
  9. Perlu meningkatkan kapasitas kelembagaan usaha budidaya
  10. Memudahkan pembudidaya untuk mengakses sumber pasar dalam pemasaran produk
  11. Standarisasi harga jual produk perikanan sehingga tidak ada permainan harga

 

  1. Habitat Vital
  1. Terumbu Karang
  • Penertiban penambangan karang
  • Pelarangan pembuangan sampah secara sembarangan
  • Meningkatkan pemahaman dan ketrampilan nelayan tentang metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan
  • Mengembangkan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan
  • Modernisasi armada penangkapan agar nelayan bisa melaut dengan jangkauan yang lebih luas sehingga mengurangi waktu melaut di kawasan perairan pantai
  • Pengembangan teknologi transplantasi dan terumbu karang buatan (artificial reef) guna merehabilitasi karang keras yang sudah rusak.
  • Perlu melakukan konservasi pada kawasan terumbu karang
  • Membangun persepsi masyarakat tentang pentingnya konservasi agar tidak ada pertentangan sehigga sasaran dan tujuan konservasi dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat
  • Membentuk pos-pos pengamanan laut melalui kerjsama pemerintah dan masyarakat,
  • Melakukan sosialisasi dan kampanye tentang kesadaran lingkungan bagi anak usia dini sampai orang dewasa dalam menjaga kelestarian sumbedaya dan lingkungan perairan,
  • Mengaktifkan lembaga-lembaga adat khusus kearifan lokal yang terkait dengan perlindungan ekosistem dan biota laut.
  • Penegakkan aturan bagi masyarakat yang merusak karang

 

  1. Mangrove
  • Melarang penduduk untuk tidak memotong pohon mangrove secara sembarangan
  • Reboisasi mangrove pada lahan mangrove yang sudah rusak
  • Membuat kebun pembibitan mangrove
  • Kampanye kesadaran lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove mulai dari anak usia dini sampai orang dewasa
  • Membentuk kelompok sadar lingkungan
  • Pengaturan zona pengambilan hasil laut di hutan mangrove
  • Konservasi mangrove
  • Pengembangan ekowisata
  • Penegakkan aturan bagi masyarakat yang merusak mangrove

 

  1. Padang lamun
  • Penertiban penambangan pasir laut
  • Mengatur tempat pendaratan perahu secara baik agar tidak merusak lamun
  • Mengatur kegiatan parawisata
  • Mengatur masyarakat yang melakukan makameting
  • Melarang masyarakat untuk tidak membuang sampah secara sembarangan
  • Penegakkan aturan bagi masyarakat yang merusak padang lamun

 

PENUTUP

            Demikian penyampaian materi ini agar bermanfaat sebagai dasar kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan di NTT.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bait, N.M, 2011. Analisis Ekologis Mmangrove di Desa Bipolo Kecamatan Selamu Kabupaten Kupang (Tesis). Program Pascasarjana Undana Kupang.

BPS NTT, 2012.  NTT Dalam Angka 2013. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT

DKP Provinsi NTT, 2009. Renstra Pembangunan Kelautan dan Perikanan Tahun 2009 – 2013. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT.

Dishut Provinsi NTT, 1997. Rencana Pengelolaan Hutan Bakau di Flores dan Kepulauan Solor provinsi NTT. Kerjasama Dishut dan PPLH Lemlit IPB.

Jumini, 2011. Hubungan antara Struktur  Komunitas Padang Lamun dengan keanekaragaman Makrobentos di di perairan Tablolong dan Paradiso Kupang (Tesis). Program Pascasarja Undana Kupang.

Kupang (Antara News), 2012. NTT Terus Optimalkan Potensi Kelautan dan Perikanan. Bkpm.go.id, Diunduh tanggal, 25 Juni 2014.

Mas’ulah, R, 2011. Keterkaitan antara Struktur Komunitas Lamun dan Struktur Populasi Bulu Babi pada Zona Intertidal di Desa Bolok, Kabupaten Kupang (Tesis). Program Pascasarjana Undana Kupang.

Nai Ulu, M.A, 2010. Analisis Faktor-faktor Penyebab Kerusakan Mangrove dan Upaya Pengelolaannya di Teluk Kupang (Tesis).  Program Pascasarjana Undana Kupang.

Nani, Y, 2011. Pengaruh Aktivitas Manusia pada Ekosistem Mangrove Terhadap Hasil Tangkapan Udang   dan Upaya Pengelolaannya di Pariti dan Oeteta Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang (Tesis). Program Pascasarjana Undana Kupang.

Ninef, J.S.R, J. Pello, F.J.L Risamasu, I. Sinu,  A,. Kangkan dan A.Y Lukas, 2010.  Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten (KKPK) Lembata. Kerjasama Pusat Penelitian Perikanan dan Kelautan Lemlit Undana dengan DKP Lembata. Pusat Penelitian Perikanan dan Kelautan Lemlit Undana Kupang.

Pellu, Y.A.Y, 2008. Studi Struktur komunitas dan kerusakan Padang Lamun di Pesisir Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang. (Tesis) Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana.

Risamasu, F.J.L; A. Tjendanawangi, F, CH, Liufeto, J.S.R Ninef dan J. Jasmanindar, 2011. Kajian Potensi Sumberdaya Ikan dan Non Ikan sebagai Sumber Pangan di Kabupaten Kupang. Pusat Penelitian Perikanan dan Kelautan  Lemlit Undana Kupang.

Rusydi,  Barhiman, A. Majid, F.J.L Risamasu, dan T. Da Cunha, 2010. Baseline Data Kualitas Air dan Biota Perairan di Teluk Kupang Sebelum Pengoperasian PLTU di Bolok Kecamatan Kupang Barat. Kerjasama Fakultas Perikanan UMK  dan PT TOM Kupang.

Sine, K.G, 2012. Fitoplankton sebagai Bioindikator Kondisi Terumbu Karang di Perairan Teluk Kupang dan Sekitarnya (Tesis). Program Pascasarjana Undana, Kupang.

Tim Peneliti Undana, 2009. Laporan Hasil Studi Ekologi Kabupaten Alor. Kerjasama dengan WWF, Tim PPKKLD dan Pemda Kabupaten Alor.

WWF, 2011.  Survey Kesehatan Terumbu Karang  di Kawasan Konservasi Perairan (KKPD) Kabupaten Alor .

WWF, 2013.  Survey Kesehatan Terumbu Karang  di Kawasan Konservasi Perairan (KKPD) Kabupaten Alor .

 

 

 

 

 

 


Bagikan :

Bahan Bacaan lainnya:



B U K U

Ketidakadilan Pangan Di Timur Indonesia

2014 © AJI Indonesia