18 Sep 2019 15:07 pm

BeJoBE | Better Journalism for Better Environment

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia

Pemahaman masyarakat Indonesia tentang pangan masih minim. Secara garis besar pemahaman umum masyarakat adalah sebatas bagaimana kebutuhan pangan terpenuhi dengan harga yang murah. Isu tentang keadilan pangan masih sangat jauh dari pemahaman masyarakat, termasuk juga kalangan terdidik seperti jurnalis, ilmuwan, profesional dll.

Hal di atas dapat dipahami, ketika Indonesia memasuki era Orde Baru, soal pangan adalah soal sensitif dan dapat menjadi subversif. Harga beras dikendalikan oleh pemerintah lewat Bulog, agar tidak timbul gejolak di perkotaan, walau petani di desa menderita dengan harga yang rendah. Sementara sektor pangan lain tidak mendapat perhatian lebih bahkan tidak berkembang (kedele, garam, daging dll). Bahkan di beberapa daerah yang pangan utamanya jagung, sagu harus bergeser ke beras, demi menjaga stabilitas keamanan nasional. Isu swasembada hanya menyentuh beras, dimana tahun 1984 Indonesia pernah swasembada beras. Namun pada jenis pangan lainnya, Indonesia makin terpuruk dan harus impor. Pada periode yang sama, lewat monopoli impor terigu grup Indofood/Bogasari, selera makan masyarakat secara perlahan beralih ke mie instan yang berbahan baku terigu dari gandum impor.  

Memasuki era Reformasi, kebijakan pangan makin tidak jelas. Liberalisasi ekonomi dan lemahnya visi pemerintah, membuat kran impor bahan pangan makin deras. Kedele, garam, daging, gandum, buah-buahan, sayur mayur, perlahan tapi pasti, porsi impor makin membesar. Sampai 15 tahun setelah Reformasi (2013) , justru Indonesia makin tergantung dengan bahan pangan impor.

Ironisnya, ketergantungan pangan impor ini tidak menjadi isu utama para politisi maupun masyarakat Indonesia. Rapuhnya ketahanan pangan negeri ini , bukan soal penting bagi sementara orang. Padahal bagi banyak negara, isu soal pangan adalah strategis dan sangat terkait dengan keadilan. Banyak negara yang memproteksi pangan dalam negerinya, agar rakyatnya berkecukupan. Sementara banyak negara lain yang kekurangan pangan sehingga timbul kelaparan. Pangan pun bisa memicu perang antar negara.

Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pangan, lebih karena kurangnya edukasi dan sosialisasi tentang ini. Negara absen di soal pangan, baik kebijakan maupun sosialisasi ke masyarakat. Oleh karena itu perlu dan menjadi tantangan masyarakat sipil, khususnya lembaga/organisasi sipil untuk terus mengkampanyekan keadilan pangan ke masyarakat. 

Di sini media massa juga memainkan peran kunci yang memberikan pengetahuan pada masyarakat maupun menjadi penghubung dengan pemerintah. Keberadaannya diperlukan sebagai kontrol sosial bagi masyarakat dan pemerintah. Namun, kurangnya kapasitas dan pemahaman jurnalis terhadap isu keadilan pangan menjadi tantangan yang utama. Berita mengenai pangan di media sebagian besar hanya mencakup isu permukaan saja dan tidak mengeksplorasi masalah secara mendalam apalagi menganalisis sistem di luar itu, sehingga masyarakat memperoleh informasi secara parsial.

Oleh karena itu, untuk mendorong lebih banyak artikel mendalam dan sesuai kode etik mengenai isu keadilan pangan, sangat dibutuhkan peningkatan kapasitas jurnalis dalam isu keadilan pangan. Melalui media dan jurnalis, publik akan memiliki akses pada isu tersebut.

Dalam mendukung isu keadilan pangan, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan OXFAM dalam kampanye GROW. Bergerak dengan melakukan peningkatan kapasitas jurnalis mengenai isu ini, sehingga mendorong terbentuknya perspektif baru yang lebih mendalam dalam memproduksi karya jurnalistiknya. 

AJI juga menyadari bahwa sebagian besar generasi muda di Indonesia telah menggunakan media sosial. Hal ini akan memberikan kontribusi yang besar jika GROW dapat mengundang mereka untuk mendukung kampanye ini melalui media sosial. Itulah sebabnya kampanye melalui media sosial untuk generasi muda harus menjadi bagian dari strategi GROW.

Tujuan

1. Meningkatkan kepedulian masyarakat terutama generasi muda tentang isu pangan, khususnya pangan lokal.

2. Meningkatkan kapasitas dan pemahaman jurnalis terhadap isu keadilan pangan.

3. Mendorong pemberitaan media tentang isu keadilan pangan dalam bentuk liputan mendalam yang mengikuti kaidah dan kode etik jurnalistik.

 

 

GROW adalah kampanye global 4 tahun (2011-2015) oleh Oxfam yang ditujukan untuk mendorong keadilan pangan, khususnya dengan melindungi hak-hak produsen pangan skala kecil.

Mengapa grow ?

• Adanya ketidakadilan sistem pangan global

• Relasi produksi pangan yang memiskinkan produsen pangan skala kecil

Apa yang ingin diwujudkan grow? 

- Meningkatnya dukungan publik terhadap perlindungan hak-hak produsen pangan skala kecil/tradisional  --- konsumen perkotaan, kelompok muda, dan media massa.

- Kebijakan (pusat maupun daerah) yang berpihak pada produsen pangan skala kecil.

Meningkatnya kapasitas produsen pangan skala kecil dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

- Meningkatnya investasi publik dalam produksi pangan yang melindungi sistem pangan lokal.


Bagikan :

Tentang Program lainnya:



B U K U

Ketidakadilan Pangan Di Timur Indonesia

2014 © AJI Indonesia